Batak_Com

Horas.....!!!! Bangga jadi orang Batak, Terimakasih telah berkunjung ke blog ini. salam kompak Orang Batak. Horas..!! (16 juli 2011)
Proses pembuatan ulos batak
       Bagi awam dirasa sangat unik. Bahan dasar ulos pada umumnya adalah sama yaitu sejenis benang yang dipintal dari kapas. Yang membedakan sebuah ulos adalah proses pembuatannya. Ini merupakan ukuran penentuan nilai sebuah ulos.

 

Untuk memberi warna dasar benang ulos, sejenis tumbuhan nila (salaon) dimasukkan kedalam sebuah periuk tanah yang telah diisi air. Tumbuhan ini direndam (digon-gon) berhari-hari hingga gatahnya keluar, lalu diperas dan ampasnya dibuang. Hasilnya ialah cairan berwarna hitam kebiru-biruan yang disebut “itom”.

 

Periuk tanah (palabuan) diisi dengan air hujan yang tertampung pada lekuk batu (aek ni nanturge) dicampur dengan air kapur secukupnya. Kemudian cairan yang berwarna hitam kebiru-biruan tadi dimasukkan, lalu diaduk hingga larut. Ini disebut “manggaru”. Kedalaman cairan inilah benang dicelupkan.

Sebelum dicelupkan, benang terlebih dahulu dililit dengan benang lain pada bahagian-bahagian tertentu menurut warna yang diingini, setelah itu proses pencelupan dimulai secara berulang-ulang. Proses ini memakan waktu yang sangat lama bahkan berbulan-bulan dan ada kalahnya ada yang sampai bertahun.

 

Setelah warna yang diharapkan tercapai, benang tadi kemudian disepuh dengan air lumpur yang dicampur dengan air abu, lalu dimasak hingga mendidih sampai benang tadi kelihatan mengkilat. Ini disebut “mar-sigira”. Biasanya dilakukan pada waktu pagi ditepi kali atau dipinggiran sungai/danau.

 

Bilamana warna yang diharapkan sudah cukup matang, lilitan benang kemudian dibuka untuk “diunggas” agar benang menjadi kuat. Benang direndam kedalam periuk yang berisi nasi hingga meresap keseluruh benang. Selesai diunggas, benang dikeringkan.

Benang yang sudah kering digulung (dihulhul) setiap jenis warna.

Setelah benang sudah lengkap dalam gulungan setiap jenis warna yang dibutuhkan pekerjaan selanjutnya adalah “mangani”. Benang yang sudah selesai diani inilah yang kemudian masuk proses penenunan.

Bila kita memperhatikan ulos Batak secara teliti, akan kelihatan bahwa cara pembuatannya yang tergolong primitif bernilai seni yang sangat tinggi.
Seperti telah diutarakan diatas, ulos Batak mempunyai bahan baku yang sama. Yang membedakan adalah poses pembuatannya mempunyai tingkatan tertentu. Misalnya bagi anak dara, yang sedang belajar bertenun hanya diperkenankan membuat ulos “parompa” ini disebut “mallage” (ulos yang dipakai untuk menggendong anak).

Tingkatan ini diukur dari jumlah lidi yang dipakai untuk memberi warna motif yang diinginkan. Tingkatan yang tinggi ialah bila dia telah mampu mempergunakan tujuh buah lidi atau disebut “marsipitu lili”. Yang bersangkutan telah dianggap cukup mampu bertenun segala jenis ulos Batak

Proses pembuatan ulos batak

       Bagi awam dirasa sangat unik. Bahan dasar ulos pada umumnya adalah sama yaitu sejenis benang yang dipintal dari kapas. Yang membedakan sebuah ulos adalah proses pembuatannya. Ini merupakan ukuran penentuan nilai sebuah ulos.

Untuk memberi warna dasar benang ulos, sejenis tumbuhan nila (salaon) dimasukkan kedalam sebuah periuk tanah yang telah diisi air. Tumbuhan ini direndam (digon-gon) berhari-hari hingga gatahnya keluar, lalu diperas dan ampasnya dibuang. Hasilnya ialah cairan berwarna hitam kebiru-biruan yang disebut “itom”.

Periuk tanah (palabuan) diisi dengan air hujan yang tertampung pada lekuk batu (aek ni nanturge) dicampur dengan air kapur secukupnya. Kemudian cairan yang berwarna hitam kebiru-biruan tadi dimasukkan, lalu diaduk hingga larut. Ini disebut “manggaru”. Kedalaman cairan inilah benang dicelupkan.

Sebelum dicelupkan, benang terlebih dahulu dililit dengan benang lain pada bahagian-bahagian tertentu menurut warna yang diingini, setelah itu proses pencelupan dimulai secara berulang-ulang. Proses ini memakan waktu yang sangat lama bahkan berbulan-bulan dan ada kalahnya ada yang sampai bertahun.

Setelah warna yang diharapkan tercapai, benang tadi kemudian disepuh dengan air lumpur yang dicampur dengan air abu, lalu dimasak hingga mendidih sampai benang tadi kelihatan mengkilat. Ini disebut “mar-sigira”. Biasanya dilakukan pada waktu pagi ditepi kali atau dipinggiran sungai/danau.

Bilamana warna yang diharapkan sudah cukup matang, lilitan benang kemudian dibuka untuk “diunggas” agar benang menjadi kuat. Benang direndam kedalam periuk yang berisi nasi hingga meresap keseluruh benang. Selesai diunggas, benang dikeringkan.

Benang yang sudah kering digulung (dihulhul) setiap jenis warna.

Setelah benang sudah lengkap dalam gulungan setiap jenis warna yang dibutuhkan pekerjaan selanjutnya adalah “mangani”. Benang yang sudah selesai diani inilah yang kemudian masuk proses penenunan.

Bila kita memperhatikan ulos Batak secara teliti, akan kelihatan bahwa cara pembuatannya yang tergolong primitif bernilai seni yang sangat tinggi.

Seperti telah diutarakan diatas, ulos Batak mempunyai bahan baku yang sama. Yang membedakan adalah poses pembuatannya mempunyai tingkatan tertentu. Misalnya bagi anak dara, yang sedang belajar bertenun hanya diperkenankan membuat ulos “parompa” ini disebut “mallage” (ulos yang dipakai untuk menggendong anak).

Tingkatan ini diukur dari jumlah lidi yang dipakai untuk memberi warna motif yang diinginkan. Tingkatan yang tinggi ialah bila dia telah mampu mempergunakan tujuh buah lidi atau disebut “marsipitu lili”. Yang bersangkutan telah dianggap cukup mampu bertenun segala jenis ulos Batak

Makna dan arti Ulos dalam masyarakat batak

ULOS adalah

kain tenun khas Batak berbentuk selendang, yang melambangkan ikatan kasih sayang antara orang tua dan anak-anaknya atau antara seseorang dan orang lain, seperti yang tercantum dalam filsafat batak yang berbunyi: “Ijuk pengihot ni hodong.” Ulos penghit ni halong, yang ertinya ijuk pengikat pelepah pada batangnya dan ulos pengikat kasih sayang diantara sesama.Pada mulanya fungsi Ulos adalah untuk menghangkan badan, tetapi kini Ulos memiliki fungsi simbolik untuk hal-hal lain dlam segala aspek kehidupan orang Batak. Ulos tidak dapat dipisahkan dari kehidupan orang Batak. Setiap ulos mempunyai ‘raksa’ sendiri-sendiri, ertinya mempunyai sifat, keadaan, fungsi, dan hubungan dengan hal atau benda tertentu.

Dalam pandangan suku kaum Batak, ada tiga unsur yang mendasarkan dalam kehidupan manusia, iaitu darah, nafas, dan panas. Dua unsur terdahulu adalah pemberian Tuhan, sedangkan unsur ketiga tidaklah demikian. Panas yang diberikan matahari tidaklah cukup untuk menangkis udara dingin dipemukiman suku bangsa batak, lebih-lebih lagi diwaktu malam.Menurut pandangan suku bangsa batak, ada tiga sumber yang memberi panas kepada manusia, iaitu matahari, api dan Ulos. Ulos berfungsi memberi panas yang menyihatkan badan dan menyenangkan fikiran sehingga kita gembira dibuatnya.

dahulu sebelum orang batak mengenal tekstil buatan luar, ulos adalah pakaian sehari-hari. Bila dipakai laki-laki bagian atasnya disebut “hande-hande” sedang bagian bawah disebut “singkot” kemudian bagian penutup kepala disebut “tali-tali” atau “detar”.

Bia dipakai perempuan, bagian bawah hingga batas dada disebut “haen”, untuk penutup pungung disebut “hoba-hoba” dan bila dipakai berupa selendang disebut “ampe-ampe” dan yang dipakai sebagai penutup kepala disebut “saong”.

Apabila seorang wanita sedang menggendong anak, penutup punggung disebut “hohop-hohop” sedang alat untuk menggendong disebut’ “parompa”.

Sampai sekarang tradisi berpakaian cara ini masih bias kita lihat didaerah pedalaman Tapanuli.

Tidak semua ulos Batak dapat dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya ulos jugia, ragi hidup, ragi hotang dan runjat. Biasanya adalah simpanan dan hanya dipakai pada waktu tertentu saja.

Download kamus batak

kamus batak bisa didownload di alamat link berikut ini :http://www.ziddu.com/download/5036850/BukuKAMUSBahasaBATAK.doc.html

atau bisa juga di link berikut ini: http://uploadingit.com/file/t8mdo1aq0yhxfutj/indobatak1.zip

selamat memakai dan semoga semakin mengerti HATA BATAK.

Mauliate..!!

Batak Simalungun

Suku Simalungun atau juga disebut Batak Simalungun adalah salah satu suku asli dari provinsi Sumatera Utara, Indonesia, yang menetap di Kabupaten Simalungun dan sekitarnya. Beberapa sumber menyatakan bahwa leluhur suku ini berasal dari daerah India Selatan. Sepanjang sejarah suku ini terbagi ke dalam beberapa kerajaan. Marga asli penduduk Simalungun adalah Damanik, dan 3 marga pendatang yaitu, Saragih, Sinaga, dan Purba. Kemudian marga marga (nama keluarga) tersebut menjadi 4 marga besar di Simalungun.

Orang Batak menyebut suku ini sebagai suku “Si Balungu” dari legenda hantu yang menimbulkan wabah penyakit di daerah tersebut, sedangkan orang Karo menyebutnya Timur karena bertempat di sebelah timur mereka.

Asal-usul

Terdapat berbagai sumber mengenai asal usul Suku Simalungun, tetapi sebagian besar menceritakan bahwa nenek moyang Suku Simalungun berasal dari luar Indonesia.
Kedatangan ini terbagi dalam 2 gelombang [1]:

  1. Gelombang pertama (Simalungun Proto ), diperkirakan datang dari Nagore (India Selatan) dan pegunungan Assam (India Timur) di sekitar abad ke-5, menyusuri Myanmar, ke Siam dan Malaka untuk selanjutnya menyeberang ke Sumatera Timur dan mendirikan kerajaan Nagur dari Raja dinasti Damanik.
  2. Gelombang kedua (Simalungun Deutero), datang dari suku-suku di sekitar Simalungun yang bertetangga dengan suku asli Simalungun.

Pada gelombang Proto Simalungun di atas, Tuan Taralamsyah Saragih menceritakan bahwa rombongan yang terdiri dari keturunan dari 4 Raja-raja besar dari Siam dan India ini bergerak dari Sumatera Timur ke daerah Aceh, Langkat, daerah Bangun Purba, hingga ke Bandar Kalifah sampai Batubara.

Kemudian mereka didesak oleh suku setempat hingga bergerak ke daerah pinggiran danau Toba dan Samosir.

Pustaha Parpandanan Na Bolag (pustaka Simalungun kuno) mengisahkan bahwa Parpandanan Na Bolag (cikal bakal daerah Simalungun) merupakan kerajaan tertua di Sumatera Timur yang wilayahnya bermula dari Jayu (pesisir Selat Malaka) hingga ke Toba. Sebagian sumber lain menyebutkan bahwa wilayahnya meliputi Gayo dan Alas di Aceh hingga perbatasan sungai Rokan di Riau.

Kini, di Kabupaten Simalungun sendiri, Akibat derasnya imigrasi, suku Simalungun hanya menjadi mayoritas di daerah Simalungun Atas.

 Kehidupan masyarakat Simalungun

Sistem mata pencaharian orang Simalungun yaitu bercocok tanam dengan padi dan jagung, karena padi adalah makanan pokok sehari-hari dan jagung adalah makanan tambahan jika hasil padi tidak mencukupi. Jual-beli diadakan dengan barter, bahasa yang dipakai adalah bahasa dialek. “Marga" memegang peranan penting dalam soal adat Simalungun. Jika dibandingkan dengan keadaan Simalungun dengan suku Batak yang lainnya sudah jauh berbeda.

Bahasa & Aksara

Suku Simalungun menggunakan Bahasa Simalungun (bahasa simalungun: hata/sahap Simalungun) sebagai bahasa Ibu. Derasnya pengaruh dari suku-suku di sekitarnya mengakibatkan beberapa bagian Suku Simalungun menggunakan bahasa Melayu, Karo, Batak, dan sebagainya. Penggunaan Bahasa Batak sebagian besar disebabkan penggunaan bahasa ini sebagai bahasa pengantar oleh penginjil RMG yang menyebarkan agama Kristen pada Suku Ini.

Aksara yang digunakan suku Simalungun disebut aksara Surat Sisapuluhsiah.

Kepercayaan

Bila diselidiki lebih dalam suku Simalungun memiliki berbagai kepercayaan yang berhubungan dengan pemakaian mantera-mantera dari “Datu” (dukun) disertai persembahan kepada roh-roh nenek moyang yang selalu didahului panggilan kepada Tiga Dewa yang disebut Naibata, yaitu Naibata di atas (dilambangkan dengan warna Putih), Naibata di tengah (dilambangkan dengan warna Merah), dan Naibata di bawah (dilambangkan dengan warna Hitam). 3 warna yang mewakili Dewa-Dewa tersebut (Putih, Merah dan Hitam) mendominasi berbagai ornamen suku Simalungun dari pakaian sampai hiasan rumahnya.

Orang Simalungun percaya bahwa manusia dikirim ke dunia oleh naibata dan dilengkapi dengan Sinumbah yang dapat juga menetap di dalam berbagai benda, seperti alat-alat dapur dan sebagainya, sehingga benda-benda tersebut harus disembah. Orang Simalungun menyebut roh orang mati sebagai Simagot. Baik Sinumbah maupun Simagot harus diberikan korban-korban pujaan sehingga mereka akan memperoleh berbagai keuntungan dari kedua sesembahan tersebut.

Harungguan Bolon

Terdapat empat marga asli suku Simalungun yang populer dengan akronim SISADAPUR yaitu:

Keempat marga ini merupakan hasil dari “Harungguan Bolon” (permusyawaratan besar) antara 4 raja besar untuk tidak saling menyerang dan tidak saling bermusuhan (marsiurupan bani hasunsahan na legan, rup mangimbang munssuh).

Keempat raja itu adalah:

1.Raja Nagur bermarga Damanik

Damanik berarti Simada Manik (pemilik manik), dalam bahasa Simalungun, Manik berarti Tonduy, Sumangat, Tunggung, Halanigan (bersemangat, berkharisma, agung/terhormat, paling cerdas). 

2 Raja Banua Sobou bermarga Saragih

Saragih dalam bahasa Simalungun berarti Simada Ragih, yang mana Ragih berarti atur, susun, tata, sehingga simada ragih berarti Pemilik aturan atau pengatur, penyusun atau pemegang undang-undang.

3.Raja Banua Purba bermarga Purba

Purba menurut bahasa berasal dari bahasa Sansekerta yaitu Purwa yang berarti timur, gelagat masa datang, pegatur, pemegang Undang-undang, tenungan pengetahuan, cendekiawan/sarjana.

4.Raja Saniang Naga bermarga Sinaga

Sinaga berarti Simada Naga, dimana Naga dalam mitologi dewa dikenal sebagai penebab Gempa dan Tanah Longsor.

Marga-marga perbauran

Perbauran suku asli Simalungun dengan suku-suku di sekitarnya di Pulau Samosir, Silalahi, Karo, dan Pakpak menimbulkan marga-marga baru.

Selain itu ada juga marga-marga lain yang bukan marga Asli Simalungun tetapi kadang merasakan dirinya sebagai bagian dari suku Simalungun, seperti Lingga, Manurung, Butar-butar dan Sirait.

Perkerabatan Simalungun

Orang Simalungun tidak terlalu mementingkan soal silsilah karena penentu partuturan (perkerabatan) di Simalungun adalah hasusuran (tempat asal nenek moyang) dan tibalni parhundul (kedudukan/peran) dalam horja-horja adat (acara-acara adat). Hal ini bisa dilihat saat orang Simalungun bertemu, bukan langsung bertanya “aha marga ni ham?” (apa marga anda) tetapi “hunja do hasusuran ni ham (dari mana asal-usul anda)?”

Hal ini dipertegas oleh pepatah Simalungun “Sin Raya, sini Purba, sin Dolog, sini Panei. Na ija pe lang na mubah, asal ma marholong ni atei” (dari Raya, Purba, Dolog, Panei. Yang manapun tak berarti, asal penuh kasih).

Sebagian sumber menuliskan bahwa hal tersebut disebabkan karena seluruh marga raja-raja Simalungun itu diikat oleh persekutuan adat yang erat oleh karena konsep perkawinan antara raja dengan “puang bolon” (permaisuri) yang adalah puteri raja tetangganya. Seperti raja Tanoh Djawa dengan puang bolon dari Kerajaan Siantar (Damanik), raja Siantar yang puang bolonnya dari Partuanan Silappuyang, Raja Panei dari Putri Raja Siantar, Raja Silau dari Putri Raja Raya, Raja Purba dari Putri Raja Siantar dan Silimakuta dari Putri Raja Raya atau Tongging.

Adapun Perkerabatan dalam masyarakat Simalungun disebut sebagai partuturan. Partuturan ini menetukan dekat atau jauhnya hubungan kekeluargaan (pardihadihaon), dan dibagi kedalam beberapa kategori sebagai berikut:

  • Tutur Manorus / Langsung
Perkerabatan yang langsung terkait dengan diri sendiri.
  • Tutur Holmouan / Kelompok
Melalui tutur Holmouan ini bisa terlihat bagaimana berjalannya adat Simalungun
  • Tutur Natipak / Kehormatan
Tutur Natipak digunakan sebagai pengganti nama dari orang yang diajak berbicara sebagai tanda hormat.


Pakaian Adat

Kain Adat Simalungun disebut Hiou. Penutup kepala lelaki disebut Gotong, penutup kepala wanita disebut Bulang, sedangkan yang kain yang disandang ataupun kain samping disebut Suri-suri.

Sama seperti suku-suku lain di sekitarnya, pakaian adat suku Simalungun tidak terlepas dari penggunaan kain Ulos (disebut Uis di suku Karo). Kekhasan pada suku Simalungun adalah pada kain khas serupa Ulos yang disebut Hiou dengan berbagai ornamennya.

Ulos pada mulanya identik dengan ajimat, dipercaya mengandung “kekuatan” yang bersifat religius magis dan dianggap keramat serta memiliki daya istimewa untuk memberikan perlindungan. Menurut beberapa penelitian penggunaan ulos oleh suku bangsa Batak, memperlihatkan kemiripan dengan bangsa Karen di perbatasan Myanmar, Muangthai dan Laos, khususnya pada ikat kepala, kain dan ulosnya.

Secara legenda ulos dianggap sebagai salah satu dari 3 sumber kehangatan bagi manusia (selain Api dan Matahari), namun dipandang sebagai sumber kehangatan yang paling nyaman karena bisa digunakan kapan saja (tidak seperti matahari, dan tidak dapat membakar (seperti api). Seperti suku lain di rumpun Batak, Simalungun memiliki kebiasaan “mambere hiou” (memberikan ulos) yang salah satunya melambangkan pemberian kehangatan dan kasih sayang kepada penerima Hiou. Hiou dapat dikenakan dalam berbagai bentuk, sebagai kain penutup kepala, penutup badan bagian bawah, penutup badan bagian atas, penutup punggung dan lain-lain.

Hiou dalam berbagai bentuk dan corak/motif memiliki nama dan jenis yang berbeda-beda, misalnya Hiou penutup kepala wanita disebut suri-suri, Hiou penutup badan bagian bawah bagi wanita misalnya ragipanei, atau yang digunakan sebagai pakaian sehari-hari yang disebut jabit. Hiou dalam pakaian penganti Simalungun juga melambangkan kekerabatan Simalungun yang disebut tolu sahundulan, yang terdiri dari tutup kepala (ikat kepala), tutup dada (pakaian) dan tutup bagian bawah (abit).

Menurut Muhar Omtatok, Budayawan Simalungun, awalnya Gotong (Penutup Kepala Pria Simalungun) berbentuk destar dari bahan kain gelap ( Berwarna putih untuk upacara kemalangan, disebut Gotong Porsa), namun kemudian Tuan Bandaralam Purba Tambak dari Dolog Silou juga menggemari trend penutup kepala ala melayu berbentuk tengkuluk dari bahan batik, dari kegemaran pemegang Pustaha Bandar Hanopan inilah, kemudian Orang Simalungun dewasa ini suka memakai Gotong berbentuk Tengkuluk Batik.

Gondang Bolon/Gondang Sabangunan

« Umpama dan umpasa dalam orang Batak Festival Vocal Group Lagu-lagu Daerah »

Gondang Bolon/Gondang Sabangunan

Mungkin kita masih dibingungkan apa bedanya antara gondang bolon dan gondang sabungunan, dan itu sangat sering kita dengar dalam acara adat batak. Mungkin apabila ditanyakan, masih banyak yang bingung apakah keduanya sama atau beda.

Kebetulan saya membaca Majalah Budaya Batak “TAPIAN” beberapa saat yang lalu yaitu mengenai Gondang Bolon dan Gondang Sabangunan edisi Feb-Mar 2008. Disana dikatakan bahwa Gondang Bolon dan Gondang Sabangunan adalah sama.

Disana juga dikatakan bahwa Gondang Bolon menjadi denyut jantung, nadi dan nafas bagi orang Batak yang mengadakan berbagai macam upacara seperti:

  • Horja Bius (upacara penolak bala bencana, memohon pasu-pasu Debata (berkah))
  • Mangongkal holi-holi/saring-saring (mangangkat tulang-belulang nenek moyang)
  • Sari matua / saor matua (wafat dan sudah mempunyai keturunan cucu atau buyut atau pun cicit)

Upacara mohon kesuburan atau panen raya.

Penghantar mantar-mantra untuk memanggil arwah-arwah para leluhur dan Gereja menolaknay berdasarkan efek trance (siar-siaran/kesurupan) yang ditimbulakn gondang itu.

Pada majalah ini juga dijelaskan mengenai tujuh repertoar yang akan membawa kita pada efek mediatif yang mempengaruhi denyut jantung serta kesadaran kita.

Ketujuh repertoar Gondang tersebut adalah:

  • Gondang Mula-mula, gondang pembuka yang menyiratkan awal mula turunnya Debata Mula jadi na Bolon di Pusuk Buhit
  • Gondang Somba-somba, sujud kepada Raja-raja Bius dan leluhur
  • Gondang liat-liat, untuk melihat tanda-tanda alam
  • Gondang Simonang-monang, sebagi bentuk pemujaan kepada Batar Guru atau Debata Sori
  • Gondang Parsadaan, sebagi simbol persatuan
  • Gondang Hasahatan, yang bermakna sampainya upacara adat pada penghujung acara, ketika ke-sepakatan adat sudah tercapai dan terpenuhi
  • Gondang Sitio-tio, gondang yang menutup upacara, dengan harapan semua anggota keluarga mendapat kecerahan dan dijauhkan dari mara (becana = halangan)

Untuk lebih jelasnya dan lebih detail mengenai Gondang Bolon/Gondang Sabangunan dalam kehidupan orang Batak dahulu dan kini, dapat kita lihat dan baca pada majalah “TAPIAN”. Majalah ini merupakan majalah yang mengupas mengenai Budaya Batak.

Partuturon

1. Ahu = aku, saya

2. Anak = anak laki-laki

3. Amang >damang >damang parsinuan =ayah, bapak.

4. Amang, sapaan umum menghormati kaum laki-laki.

5. Amanta >amanta raja, dalam sebuah acara pertemuan.

6. Amanguda, adik laki-laki dari ayah kita.

7. Amanguda, suami dari adik ibu kita.

8. Amangtua, abang dari ayah kita.

9. Amangtua, suami dari kakak ibu kita sendiri.

10. Amanguda/amangtua, suami dari pariban ayah kita.

11. Angkang = abang. Angkangdoli, abang yang sudah kawin.

12. Angkang boru, isteri abang. Kakak yang boru tulang kita.

13. Anggi, adik kita (lk), adik (pr) boru tulang kita.

14. Anggi doli, suami dari anggiboru. Adik (lk) sudah kawin.

15. Anggiboru, isteri adik kita yang laki-laki.

16. Amangboru, suami kakak atau adik perempuan ayah kita.

17. Amangtua/inangtua mangulaki, ompung ayah kita.

18. Ama Naposo, anak (lk) abang/adik dari hula-hula kita.

19. Angkangboru mangulaki, namboru ayah dari seorang perempuan.

20. Ampara, penyapa awal sealur marga, marhaha-maranggi.

21. Aleale, teman akrab, bisa saja berbeda marga.

22. Bao, amangbao, suami dari eda seorang ibu.

23. Bao, inangbao, isteri dari tunggane kita (abang/adik isteri).

24. Bere, semua anak (lk + prp) dari kakak atau adik prp kita.

25. Bere, semua kakak/adik dari menantu laki-laki kita.

26. Boru, semua pihak keluarga menantu lk kita / amangboru.

27. Boru, anak kandung kita (prp) bersama suaminya.

28. Borutubu, semua menantu (lk) / isteri dari satu ompung.

29. Boru Nagojong, borunamatua, keturunan namboru kakek.

30. Boru diampuan, keturunan dari namboru ayah.

31. Bonatulang, tulang dari ayah kita.

32. Bona niari, tulang dari kakek kita.

33. Bonaniari binsar, tulang dari ayah kakek kita.

34. Damang = ayah = bapak

35. Damang, sebutan kasih sayang dari anak kepada ayah mereka.

36. Damang, digunakan juga oleh ibu kepada anaknya sendiri.

37. Dainang, sebutan kasih sayang anak kepada ibu mereka.

38. Dainang, digunakan uga oleh ayah kepada anak perempuannya.

39. Daompung, baoa+boru, kakek atau nenek kita.

40. Datulang, sebutan hormat khusus kepada tulang.

41. Dahahang (baoa+boru), abang kita atau isterinya.

42. Dongan saboltok, dongan sabutuha (sebutan lokal).

43. Dongantubu, abang adik, serupa marga.

44. Dongan sahuta, kekerabatan akrab karena tinggal dalam satu huta.

45. Dongansapadan, dianggap semarga karena diikat oleh padan/janji.

46. Eda, kakak atau adik ipar antar perempuan.

47. eda, sapa awal antara sesama wanita.

48. Hahadoli, sebutan seorang isteri terhadap abang (kandung) suaminya.

49. Haha doli, abang dari urutan struktur, dapat juga tidak semarga lagi.

50. Haha = abang. No. 48 & 49, berbeda sekali artinya.

51. Hahaboru, isteri abang kita, yang dihormati.

52. Haha Ni Hela, abang dari mantu kita.

53. Haha Ni Uhum, paling tua dalam silsilah sekelompok.

54. Hula-hula, keluarga abang/adik dari isteri kita.

55. Hela, menantu (lk) kita sendiri.

56. Hela, juga terhadap suami anak abang/anak adik kita.

57. Hami, sebutan kita terhadap pihak sebelah kita sendiri.

58. Hamu, sebutan atas pihak lawan bicara.

59. Hita, menunjuk kelompok kita sendiri.

60. Halak, menunjuk kepada kelompok orang lain.

61. Ho, kau, terhadap satu orang tertentu, tutur bawah kita.

62. Halak i, dihormati karena pantangan, terhadap bao, parumaen.

63. Ibebere, keluarga dari suami bere kita yang perempuan.

64. Ito, iboto, kakak atau adik perempuan kita, serupa marga.

65. Ito, tutur sapa awal dari lk terhadap prp atau sebaliknya.

66. Ito, panggilan kita kepada anak gadis dari namboru.

67. Iba, = ahu, saya.

68. Ibana, dia, penunjuk kepada seseorang yang sebaya kita.

69. Inang=dainang, ibu. Juga sebutan kasih kepada puteri kita.

70. Inang(simatua)=ibu mertua.

71. Inangbao, isteri dari hula-hula atau tunggane kita.

72. Inanta, sebutan penghormatan bagi wanita, sudah kawin.

73. Inanta soripada, kaum ibu yang lebih dihormati dalam acara.

74. Inanguda, isteri dari adik ayah. Ada juga inanguda marpariban.

75. Inangtua, isteri dari abang ayah. Juga inangtua marpariban.

76. Inangbaju, semua adik prp dari ibu kita, belum kawin.

77. Inangnaposo, isteri dari paraman/amangnaposo kita.

78. Indik-indik, cucu dari cucu prp kita. Sudah amat jarang ada.

79. Jolma, jolmana, = isterinya. Jolmangku = isteriku.

80. Lae, tutur sapa anak laki-laki tulang dengan kita (lk).

81. Lae, tutur sapa awal perkenalan antara dua laki-laki.

82. Lae, suami dari kakak atau adik kita sendiri (lk)

83. Lae, anak laki-laki dari namboru kita (lk)

84. Maen, anak-gadis dari hula-hula kita.

85. Marsada inangboru, abang adik karena ibu kita kakak-adik.

86. Namboru, kakak atau adik ayah kita. Sudah kawin atau belum.

87. Nantulang, isteri dari tulang kita.

88. Nasida, penunjuk seseorang yang dihormati. Atau = mereka.

89. Nasida, halk-nasida, amat dihormati karena berpantangan.

90. Natoras, orangtua kandung. Angkola = natobang.

91. Natua-tua, orangtua yang dihormati. Misalnya: amanta natua-tua i.

92. Nini, anak dari cucu laki-laki.

93. Nono, anak dari cucu perempuan kita
94. Ondok-ondok, cucu dari cucu laki-laki kita. Sudah jarang.

95. Ompung, ompungdoli, ompung suhut, ayah dari bapak kita.

96. Ompungbao, daompung, orangtua dari ibu kandung kita.

97. Ompungboru, ibu dari ayah kita.

98. Pahompu, cucu. anak – anak dari semua anak kita.

99. Pinaribot, sebutan penghormatan kepada wanita dalam acara.

100.Paramaan, anak (lk) dari hula-hula kita.

101.Parboruon, semua kelompok namboru atau menantu (lk) kita.

102.Pargellengon -idem- tetapi lebih meluas.

103.Parrajaon, semua kelompok dari hula-hula dan tulang kita.

104.Pariban, abang-adik karena isteri juga kakak-beradik.

105.Pariban, semua anak prp dari pihak tulang kita.

106. Pariban, anak perempuan yang sudah kawin, dari pariban mertua perempuan.

107. Parumaen = mantu prp. isteri anak kita.

108. Pamarai, abang atau adik dari suhut utama, orang kedua.

109. Rorobot, tulangrorobot, tulang isteri (bukan narobot).

110.Sinonduk = suami. Parsonduk bolon = isteri, pardijabu.

111.Simatua doli dan simatua boru = mertua lk dan prp.

112.Simolohon = simandokhon = iboto, kakak atau adik lk.

113.Suhut, pemilik hajatan. Paidua ni suhut, orang kedua.

114.Tulang, abang atau adik dari ibu kita.

115.Tulang/nantulang, mertua dari adik kita yang laki-laki.

116.Tulang naposo = paraman yang sudah kawin.

117.Tulang Ni Hela, tulang dari pengantin laki-laki.

118.Tulang/nantulang mangulaki, panggilan cucu kepada mertua.

119.Tunggane, semua abang dan adik (lk) dari isteri kita.

120.Tunggane, semua anak laki-laki dari tulang kita.

121.Tunggane doli, amang siadopan, amanta jabunami = suami

122.Tunggane bour, inang siadopan, pardijabunami, = isteri.

123.Tunggane huta, raja dalam sebuah huta, kelompok pendiri huta.

124.Tuan doli = suami.

125.Tuan boru = isteri.

sumber nadver dan Learning Forum

Alat-alat Rumah Tangga Yang Dipakai oleh Nenek Moyang Kita Dahulukala

* Panutuan dan Tutu adalah alat untuk menggiling bumbu dapur. Panutuan dan Tutu terbuat dari batu atau kayu. Panutuan adalah wadah tempat bumbu akan digiling, sedangkan Tutu adalah batu atau kayu penggiling bumbu itu. Tutu ini dinamai juga Papene.


* Papene adalah Sapa kecil tanpa kaki. Besarnya sekitar ± 30-40 cm. Biasanya Papene ini digunakan pada kesempatan sehari-hari. * Hansung atau Hiong adalah bejana untuk mengambil air dari sumber air (sumur, pancuran atau sungai) dan sekaligus tempat penyimpanannya. Hansung atau Hiong adalah tabung besar yang terbuat dari bambu besar dengan ruas buku yang panjang. Kadang-kadang kulit luarnya dibuang, tetapi kadang-kadang tidak. Kulit yang tidak dibuang sering dihiasi dengan tulisan atau ukiran mitis. Selain untuk menampung dan menyimpan air, Hansung atau Hiong digunakan juga untuk menampung air aren yang dikenal dengan tuak. Di tanah Karo bejana ini disebut Kitang.


* Ompon ialah sejenis karung berbentuk silinder. Ompon terbuat dari kulit kayu atau dari

diayam dari Baion atau pandan. Besarnya dan volumenya tidak tentu. Ada ompon yang bisa menampung padi sebanyak 20-30 porsanan atau panuhukan. Porsanan atau Panuhukan adalah ukuran umum sebanyak orang bisa memikul. “porsan” atau “tuhuk” berarti pikul.
* Hudon Tano atau Susuban Tano adalah bejana yang terbuat dari tanah liat. Pada zaman dahulu bejana ini dipakai serba guna, misalnya: tempat penyimpanan air, tempat memasak makanan dan air minum.



* Hobon atau Tambarang mengacu pada barang yang sama, yakni sejenis tong yang terbuat dari kulit kayu yang amat besar. Hobon atau Tambarang ini dipakai untuk tempat menyimpan padi. Bila Hobon atau Tambarang ini berdiri akan tampak seperti drum yang besar.



* Sapa Bolon, atau biasa disebut sapa saja, ialah piring yang terbuat dari kayu. Biasanya sapa itu berdiameter ± 30-40 cm; tinggi ± 20-30 cm. Biasanya piring ini digunakan ketika satu keluarga makan hasil panen pertama atau makan Dengke na hinongkoman (ikan pelindung) untuk menolak penyakit menular. Nama ikan itu adalah Porapora. Jumlah ikan itu mesti sebanyak jumlah anggota keluarga yang makan, yang ditaruh pada sapa.



* Poting. Poting atau gunci terbuat dari tanah liat dan tutupnya terbuar dari kayu. Barang ini dipakai sebagai tempat tuak.



* Losung adalah lumpang, yakni perkakas untuk menumbuk padi untuk memperoleh beras. Losung dapat terbuat dari batu atau kayu. Biasanya bentuknya seperti bidang trapesium yang terbalik. Pada permukaan atas terdapat lubang besar ke dalamnya dimasukkan barang yang hendak ditumbuk. Ada dua ukuran lumpang, besar dan kecil. Lumpang besar digunakan untuk menumbuk padi, sedangkan yang kecil dipakai untuk menumbuk padi dalam jumlah sedikit atau pun untuk menggiling bumbu. Andalu adalah alat pasangan untuk menumbuk padi pada lumpang itu. Andalu adalah tongkat kayu sebesar genggaman tangan dengan panjang ± 150-200 cm. Dengan pergesekan Andalu dan padi, kulit padi menjadi terkelupas dan menghasilkan beras.



*Geanggeang termasuk perkakas dapur tempat penyimpanan lauk yang sudah dimasak. Bentuknya seperti keranjang yang dianyam dari rotan besar. Geanggeang ini tergantung setinggi ibu rumah tangga pemilik Jabu Bona pada Ruma Batak. Perkakas itu terikat pada atap rumah. Disebut Geanggeang karena perkakas ini tergantung dan mudah bergoyang. Di tempat inilah disimpan lauk yang sudah dimasak sehingga tidak mudah digapai anak-anak, kucing atau tikus. (gambar geanggeang1.JPG dan geanggeang2.JPG).
* Ampang adalah sejenis bakul yang terbuat dari anyaman rotan yang dibelah dan dihaluskan. Bagian bibir Ampang berbentuk bundar yang dibuat dari rotan bulat. Tetapi bagian dasar mendapat bentuk bidang bujursangkar. Ampang ini diperkuat oleh empat rangka dari sudut bujursangkar pada bagian dasar yang menopang bibir Ampang yang berbentuk bundar. Ampang digunakan sebagai alat pengukur isi untuk padi.


* Parutan. Parutan yang terbuat dari kayu dan sebatang besi. Fungsinya ialah untuk memarut kelapa.




* Keranjang. terbuat dari rotan.
Fungsinya antara lain sebagai tempat pakaian

Filsafat Mangulosi dan Jenis-Jenis Ulos

Mangulosi adalah salah satu hal yang teramat penting dalam adat Batak. Kenapa begitu dan darimana semua ini bermula ?Beginilah filsafatnya, Dulu para nenek moyang kita selalu berusaha untuk menghangatkan tubuhnya dengan berbagai cara untuk kesehatan dan kenyamanan. Masalahnya, para leluhur kita hidupnya bukanlah di kota-kota besar, tetapi di pegunungan yang jauh di atas permukaan laut ( sea level ). Jadi jangan tersinggung kalau salah satu sebutan untuk bangso kita adalah ‘ Orang Gunung ‘.

Di daerah tadi, tentu saja suhunya sangat dingin dan leluhur kita selalu mencari akal untuk menciptakan rasa hangat yang ideal. Satu contohnya bisa kita lihat dari umpasa ini :

‘Sinuan bulu mambahen las ,
Sinuan partuturan sibahen horas’

Itulah sebabnya di kampung kita banyak sekali terdapat tanaman bambu = bulu. Selain dimaksudkan untuk menangkal musuh dan ancaman hewan buas, bambu tadi ternyata sengaja dibuat untuk menciptakan rasa hangat melingkupi rumah sekelilingnya. Logis kan…? Simpelnya begini, kawanan bambu yang saling mengait akan menghambat hembusan angin.

Leluhur kita menyebutkan bahwa ada 3 unsur kehidupan ; darah, nafas, dan rasa hangat. Hangat dalam bahasa kita adalah ‘ las ‘. Kita tentu paham ucapan semacam ‘ las roha ‘..adalah ungkapan yang menggambarkan rasa sukacita yang dalam. Dari sini, kita makin paham, kehangatan adalah hal yang teramat di inginkan bangso kita.

Dulu, leluhur mengandalkan sinar matahari dan perapian sebagai pencipta rasa hangat. Tapi setelah dipikir-pikir…matahari itu datang dan pergi tanpa bisa dikontrol, lagipula datangnya siang hari. Sementara malam hari dinginnya minta ampun. Api tidak praktis digunakan waktu tidur karena resikonya besar.

Akhirnya ditemukanlah Ulos. Jangan heran kalau ulos yang kita kenal sekarang dulunya dipakai tidur lho. Tapi jangan salah juga, dulu..kualitasnya jauh lebih tinggi, tebal, lembut, dan motifnya sangat artistik.

Sejak saat itu, ulos makin digemari karena praktis. Kemana saja mereka melangkah, selalu ada ulos yang siap membalut tubuhnya dalam kehangatan. Ulospun jadi kebutuhan yang vital, karena sekaligus juga dijadikan bahan pakaian yang indah = uli. Kalau ada pertemuan kepala-kepala kampung, seluruh peserta melilitkan ulos di tubuhnya.

Sedemikian pentingnya ulos ini untuk kehidupan sehari-hari, sehingga para leluhur kita selalu memilih ulos sebagai hadiah atau pemberian untuk orang-orang yang mereka sayangi.
Nyatalah sekarang umpasa yang mengatakan :
‘ Si dua uli songon na mangan poga,
malum sahit bosur butuha ‘
Akhirnya, ulos pun masuk dalam adat yang sakral dan dibuat aturannya. Kita harus paham aturan-aturan yang dimaksud :
- Ulos hanya diberikan kepada pihak kerabat yang tingkat partuturannya lebih rendah. Misal: dari hulahula untuk parboruan; dari orangtua untuk anak-anaknya; dari haha untuk angginya. Jadi kita tak akan pernah menemukan orang Batak yang mangulosi orang tuanya sendiri atau ada seorang adik yang tanpa perasaan bersalah mangulosi abangnya. Tak ada itu.

- Karena ulos telah dibuat menjadi beberapa macam, sudah barang tentu tidaklah sembarangan memberi ulos (mangulosi) kepada orang-orang. Misalnya Ragidup sebagai ulos panggomgom untuk ina ni hela, Sibolang atau Ragihotang sebagai ulos pansamot untuk ama ni hela.
Cara pemakaian ulos ada 3 :

1. Siabithononton ( dipakai ) : Ragidup, Sibolang, Runjat, Djobit, Simarindjamisi, Ragi Pangko.
2. Sihadanghononton ( dililit di kepala atau bisa juga ditengteng ) : Sirara, Sumbat, Bolean, Mangiring, Surisuri, Sadum.
3. Sitalitalihononton ( dililit di pinggang ) : Tumtuman, Mangiring, Padangrusa.

Jaman sekarang, terutama Batak yang sudah tinggal di kota, ulos mutlak digunakan sebagai pendukung ritual adat saja, karena ulos = blanket yang macam-macam sudah bisa kita dapatkan dengan mudah dan sekarang kebanyakan dari kita pasti berpikiran kalau memakai ulos akan kelihatan seperti orang bodoh. Apa boleh buat, itu tergantung dari selera, pergaulan, dan sejauh mana kita mencintai ulos. Tapi terus terang saya tidak bisa memastikan itu salah, benar, atau tidak salah dan tidak benar.

Sekedar informasi saja, di Surabaya sini banyak sekali orang Madura yang bangga menggunakan pakaian khas daerahnya di depan public, dan jangan bilang kalau mereka itu kampungan ! Kita harus berterima kasih kepada Martha Ulos atau Eva Gracia Ulos yang mau melestarikan seni maha kaya ini.

Berikut adalah jenis-jenis ulos yang biasa digunakan dalam acara adat sekarang ini. Jadi kalau ada jenis ulos yang anda ketahui, tapi tidak tercantum disini, anda boleh menambahi berdasarkan fakta dan persetujuan kita semua. Kita memang kehilangan lecture asli mengenai ragam ulos. Tanpa ada kesan menghakimi, saya menduga, orang Belanda telah mencurinya ( Probably :D ).
Ada 12 jenis berdasarkan motif dan fungsinya dalam ritual adat :

MANGIRING
Sering diberikan sebagai ulos parompa = gendongan anak, juga dihadiahkan kepada dua kekasih ataupun pasangan muda, dengan harapan, anak yang akan memakai parompa ini akan terus dalam iringan oangtuanya.
Kepada pasangan pengantin, ulos ini diberikan sembari mengucapkan sebait umpasa :
‘ Giringgiring gostagosta,
sai tibu ma hamu mangiringiring huhut mangompaompa ‘
Cara memakainya : sitalihononton atau sinampesampehon = dijadikan selendang.

MANGIRING PINARSUNGSANG
Ulos ini diberikan kalau ada acara adat yang masisuharan/marsungsang = kacau. Misalkan, ada pihak yang semula adalah hulahula kita, tapi kemudian menjadi pihak boru karena alasan pernikahan. Ulos inilah yang patut diberikan kepada pengantin sembari berucap :
‘ Rundut biur ni eme mambahen tu porngisna,
masijaitan andor ni gadong mambahen tu ramosna ‘
artinya, biarlah partuturon jadi sedikit kacau kalau itu demi kebaikan. Lihatlah, betapa mulia adat kita Batak. Seharusnya kita bangga.
Cara memakainya : sitalihononton atau sinampesampehon.

BINTANG MAROTUR/MARATUR
Beginilah leluhur kita menyebut ulos ini : On ma ulos ni Siboru Habonaran, Siboru Deak Parujar, mula ni panggantion dohot parsorhaon, pargantang pamonori, na so boi lobi na so boi hurang. Artinya adalah kebijaksanaan.
Sekedar info, Deak Parujar adalah tokoh Batak paling bijaksana dan ini akan saya rampungkan dalam kisah tarombo.
Ulos ini juga disebut sebagai siatur maranak, siatur marboru, siatur hagabeon, siatur hamoraon.
Cara memakainya : sitalihononton atau sinampesampehon.

GODANG
Disebut juga Sadum atau Sadum Angkola. Indah nian ulos ini, dan harganya pun cukup indah. Walaupun derajat ulos ini masih di bawah Ragidup, kalau masalah harga ulos ini jangan diadu.
Ulos godang kita berikan kepada anak kesayangan kita, yang membawa sukacita dalam keluarga. Inilah yang diharapkan dengan adanya pemberian ulos ini, supaya kelak si anak makin membawa hal-hal kebajikan yang godang = banyak, mencapai apa yng dicita-citakannya dan mendapat berkat yang godang pula dari Debata = Tuhan.
Cara memakainya : dibuat baju, sinampesampehon

RAGIHOTANG
Ulos inilah yang umumnya lebih banyak diuloshon = diberikan saat ini. Kelihatan sangat anggun saat ulos ini diuloshon = dipakaikan = disandangkan, terlebih kalau jenisnya dari motif yang paling bagus. Ragihotang terbaik disebut ‘ Potir si na gok ‘.
Ada beberapa umpasa yang bisa digunakan ketika manguloshon yang satu ini, yakni :
‘ Hotang do ragian, hadanghadangan pansalongan
sihahaan gabe sianggian, molo hurang sinaloan ‘

‘ Hotang binebebebe, hotang pinulospulos
unang iba mandele, ai godang do tudostudos ‘

‘ Tumbur ni pangkat tu tumbur ni hotang
tu si hamu mangalangka sai di si ma hamu dapotan ‘

‘ Hotang hotari, hotang pulogos
gogo ma hamu mansari asa dao pogos ‘

‘ Hotang do bahen hirang, laho mandurung porapora
sai dao ma nian hamu na sirang, alai lam balga ma holong ni roha ‘

‘ Hotang diparapara, ijuk di parlabian
sai dao ma na sa mara, jala sai ro ma parsaulian ‘
Cara memakainya : dibuat baju, sinampesampehon

SITOLUNTUHO/SITOLUTUHO
Ada keistimewaan dari ulos ini, terlihat jelas dalam motif gorganya terdapat tolu = tiga tuho = bidang arsiran. Tak salah lagi ini pasti menggambarkan Dalihan Na Tolu ( baca souvenir sebelumnya ‘ Paratur ni Parhundulon ‘ ). Jadi jelaslah tujuan ulos ini diberikan. Setelah wejangan Dalihan Na Tolu diberikan, kita jangan lupa manghatahon = mengucapkan ‘ sitolu saihot ‘, yakni :
1. Pasupasu asa sai masihaholongan jala rap saur matua :
‘ Sidangka ni arirang na so tupa sirang,
di ginjang ia arirang, di toru ia panggongonan.
badan mu na ma na so ra sirang, tondi mu sai masigomgoman ‘

2. Pasupasu hagabeon :
‘ Bintang na rumiris ombun na sumorop
anak pe di hamu riris, boru pe antong torop ‘
3. Pasupasu pansamotan :
‘ Bona ni aek puli, di dolok Sitapongan,
sai ro ma tu hamu angka na uli, songon i nang pansamotan ‘
Cara memakainya : sinampesampehon.

BOLEAN
Ulos ini diberikan kepada anak yang kehilangan orangtua nya. Bolean = membelaibelai, dimaksudkan untuk mangapuli = membelai hati si anak agar selalu tabah.
Cara memakainya : sinampesampehon.

SIBOLANG
Disebut juga sibulang dan diberikan kepada orang sibulang = orang yang dihormati karena jasanya. Misalkan ulubalang yang mengalahkan musuh, atau yang bisa membinasakan binatang pemangsa yang mengganggu.
Jaman sekarang, ulos ini diberikan kepada amang ni hela dan ulos ini disebut sebagai ulos pansamot na sumintahon supaya amang ni hela tadi bisa menjadi tempat bersandar dan berlindung, na gogo mansamot jala parpomparan sibulangbulangan :
‘ Marasar sihosari di tombak ni panggulangan
sai halak na gogoma hamu mansari jala parpomparan sibulangbulangan ‘
Ulos sibolang juga sering dipakai untuk menghadiri upacara kematian. Sekaligus ulos ini dililitkan di kepala dari namabalu = isteri/suami yang ditinggalkan.
Cara memakainya : dibuat baju, sinampesampehon

RAGIDUP
Betapa sulit dan lelahnya membuat ulos ini, karena motifnya sungguh rumit. Dan memang inilah ulos paling tinggi derajatnya dalam adat kita Batak. Kalau kita cermati rupa gorga dalam ulos ini, seolah-olah semuanya hidup dan bernyawa. Itu sebabnya dinamakan Ragidup ( aragi = hidup ). Inilah ulos simbol kehidupan. Umumnya orang Batak ingin hidup dalam waktu yang lama dan jarang/tidak pernah ada orang Batak yang saya dengar bunuh diri. Orang Batak tak takut hidup dalam kemiskinan yang mendera untuk terus berjuang demi hidup. Kita adalah survivors. itu sebabnya ada umpasa seperti berikut :
‘ Agia pe lapalapa asal di toru ni sobuan
agia pe malapalap asal ma di hangoluan,
ai sai na boi do partalaga gabe parjujuon ‘

Bagian-bagian dari ulos ragidup, namanya dan artinya :
- Ada dua sisi tepi sebagai batas, yang menjelaskan kalau semua yang ada di dunia ini ada batasnya.
- Dua sisi tadi mengapit tiga bagian dan disebut ‘ badan ‘. Bagian paling ujung dimana bentuknya kelihatan sama disebut ‘ ingananni pinarhalak ‘. Ingananni pinarhalak terbagi dua lagi , yakni ingananni pinarhalak baoa dan ingananni pinarhalak boruboru.
bagian ‘ badan ‘ tadi warnanya merah kehitaman dan ditingkahi garis-garis putih yang disebut ‘ honda ‘. Ingananni pinarhalak tadi adalah simbol hagabeon, maranak dan marboru. Masih terdapat tiga simbol lagi di sana, yakni :

1. Antinganting, adalah simbol hamoraon, karena antinganting biasanya terbuat dari emas.
2. Sigumang = beruang, yakni simbol kemakmuran. Beruang adalah binatang yang bekerja tepat dan efisien, tidak banyak aksi.
3. Batu ni ansimun, melambangkan hahipason ( ansimun sipalambok, taoar sipangalumi ).

Di celah ketiga simbol ini, ada lagi macam bunga yang disebut ‘ipon’, dan di celah iponipon tadi ada yang disebut dengan ‘rasianna’.
Cara mangarasi = memeriksa Ragidup yang baik :
1. Ulos itu kelihatan jernih
2. Tenunannya rapi dan ukurannya benar ( Martha Ulos mungkin tahu, atau Belanda ? )
3. Honda harus berjumlah ganjil.
4. Jumlah ipon harus benar.
Cara memakainya : dibuat baju, sinampesampehon.

RAGIDUP SILINGGOM
Perbedaan ulos ini dengan Ragidup biasa adalah bagian ‘ badan ‘. Ulos ini punya badan yang kelihatan lebih linggom = gelap. Ulos inilah yang paling tepat diberikan kepada anak yang punya pangkat dan punya kuasa, dengan maksud, kita bisa marlinggom = berlindung di bawah kebijaksanaannya. Ini bisa juga kita berikan kepada petinggi yang mendatangi kampung kita.
Ragidup Silinggom tidak diperjual belikan. Tapi entahlah ada pihak tertentu yang melakukannya. Sebenarnya, ulos jenis ini hanya akan ditenun bila ada pemesannya.
Cara memakainya : sinampesampehon.

PINUSSAAN
Masih termasuk Ragidup. Cara memakainya pun sama.

SURISURI/TOGUTOGU/LOBULOBU
Ini ulos yang eksentrik. Rambu-rambunya tidak dipotong hingga kedua ujungnya bersatu sebagaimana layaknya kain sarung. Dan hanya wanita lah yang memakai ulos ini. Dimaksudkan, agar mereka kelihatan sopan karena ini pakaian rumahan. Jenis ini juga paling banyak dijadikan parompa.
Dinamakan lobulobu supaya segala kebaikan marlobu = masuk ke rumah orang yang memakainya.
Apabila ada boruboru yang menggendong ibotonya = adik laki-laki yang kecil, dia akan bersenandung :
‘ Ulos lobulobu marrambu ho ditongatonga
tibu ma ho ito dolidoli, jala mambahen si las ni roha ‘

Apabila dia menggendong adik perempuannya, dia akan bersenandung :
‘ Ulos lobulobu marrambu ho ditongatonga
sinok ma modom ho anggi, suman tu boru ni namora ‘

(Disadur dari Djambar Hata – oleh Ompu ni Marhulalan)
Horas!!!

(sumber:http://sirajasonang.wordpress.com/2008/02/21/filsafat-mangulosi-dan-jenis-jenis-ulos/)

AKSARA BATAK

Pada awalnya nenek moyang kita Siraja Batak mengukir aksara Batak untuk dapat menulis bahasa Batak, bukan untuk dapat menulis bahasa-bahasa yang lain. Barangkali pada waktu aksara Batak itu disingahon Siraja Batak, mereka tidak teipikir bahwa masih ada bahasa-bahasa yang lain selain bahasa daerah Batak.

Akan tetapi setelah Siraja Batak marpinompari, mereka menyebar ke desa na uwalu, barulah mereka tahu bahwa sebenarnya masih ada bahasa daerah selain bahasa Batak.

Hal ini setelah datangnya sibontar mata (bangsa asing), kemudian menyusul dengan perang Batak dan perang Padri, barulah terbuka mata para pendahulu kita bahwa sebetulnya masih banyak bahasa-bahasa yang mereka temui di luar Tano Batak.

Kemudian kita merdeka, maka semakin banyak pula pergaulan orang Batak dalam rangka mencari upaya-upaya peningkatan taraf hidup.Mereka bisa sekolah di negeri masing-masing bahkan bisa di luar Tano Batak dan akhirnya bisa ke Batavia.Pengetahuan kita semakin terbuka sehingga selain bahasa Indonesia masih banyak bahasa-bahasa daerah lain dibumi persada kita ini.

Kalau kita melihat bahasa daerah Sunda, Jawa, Bali dan lain-lain, aksara Batak itu hanya bisa menulis bahasa Indonesia selain bahasa Batak. Aksara Batak tidak bisa menulis bahasa Sunda, Jawa, Aceh, Bali dan sebagainya maupun bahasa-bahasa asing seperti bahasa Inggris, Perancis, Jerman.

Untuk mengantisipasi perkembangan zaman, sesuai dengan amanat GBHN, maka tokoh-tokoh masyarakat Batak melalui seminar pada tanggal 17 Juli 1988, telah mencoba mengembangkan aksara Batak dari 19 induk huruf menjadi 29 induk huruf.

Dengan demikian, maka bahasa Indonesia akan dapat dituliskan dengan aksara Batak. Surat Batak yang disepakati 17 Juli 1988, dikembangkan oleh masyarakat BatakAngkola-Sipirok-Padang Lawas-Mandailing-Toba-Dairi-Simalungun dan Batak Karo.

Surat Batak

Surat Batak

Cara menulis anak ni Surat untuk memperoleh bunyi a,i,u,e dan o pada Induk ni Surat



INDUK SURAT (INA NI SURAT) DENGAN ANAK NI SURAT PADA AKSARA BATAK TOBA

INDUK SURAT (INA NI SURAT) DENGAN ANAK NI SURAT

INDUK SURAT (INA NI SURAT) DENGAN ANAK NI SURAT

Ari-ari manang tikki di halak batak

Di hita halak batak, ari-ari manang tingki adong do goarna di bahen na joloani inon. Molo di hita dalam bahasa Indonesia, adong ma didok 01.00 – 24.00 dalam sat hari, jala di bulan adong tanggal 1-30. Di hita halak batak, adong do goar ni inon sudena, songon ma didok disi na ni enet sian hutanami.com,

Dalam Bahasa Batak, ada istilah yang menyatakan waktu (jam) dalam hari. Dalam bahasa batak di kenal istilah “tikki na lima”. “Sogot” adalah antara pukul 05.00 s/d pukul 07.00 pagi. “Pangului” adalah antara pukul 07.00 s/d pukul 11.00 pagi. “Hos” adalah antara pukul 11.00 s/d pukul 13.00 siang. “Guling” adalah antara pukul 13.00 s/d pukul 17.00 sore. “Bot” adalah antara pukul 17.00 s/d pukul 18.00 petang.

Kalau istilah diatas menyatakan waktu dalam range, maka ada lagi istilah yang spesifik menunjuk jam berapa.

Contoh:
Jam 01 : Haroro NI Panakko
Jam 02 : Tahuak Manuk Sahali
Jam 03 : Tahuak Manuk Dua Hali
Jam 04 : Buha-Buha Ijuk
Jam 05 : Torang Ari
Jam 06 : Binsar Mata Ni Ari
Jam 07 : Pangului
Jam 08 : Turba
Jam 09 : Pangguit Raja
Jam 10 : Sagang Ari
Jam 11 : Huma Na Hos
Jam 12 : Hos / Tonga Ari
Jam 13 : Guling
Jam 14 : Guling Dao
Jam 15 : Tolu Gala
Jam 16 : Dua Gala
Jam 17 : Sagala
Jam 18 : Mate Mata Ni Ari
Jam 19 : Samon
Jam 20 : Hatiha Mangan
Jam 21 : Tungkap Hudon
Jam 22 : Sampe Modom
Jam 23 : Sampe Modom Na Bagas
Jam 24 : Tonga Borngin

ISTILAH HARI DALAM BULAN

Dalam bahasa batak dikenal juga istilah hari dalam bulan. Jika dalam bulan ada 30 hari maka setiap hari tersebut ada istilahnya / bahasa bataknya, sbb:
Hari ke-1 : Artia
Hari ke-2 : Suma
Hari ke-3 : Anggara
Hari ke-4 : Muda
Hari ke-5 : Boraspati
Hari ke-6 : Singkora
Hari ke-7 : Samisara
Hari ke-8 : Antian ni aek
Hari ke-9 : Suma ni mangadap
Hari ke-10 : Anggara Sampulu
Hari ke-11 : Muda ni mangadap
Hari ke-12 : Boraspati na tanggok
Hari ke-13 : Singkora Purnama
Hari ke-14 : Samisara Purnama
Hari ke-15 : Tula
Hari ke-16 : Suma ni Holon
Hari ke-17 : Anggara ni holon
Hari ke-18 : Muda ni holon
Hari ke-19 : Boraspati ni holon
Hari ke-20 : Singkora mora turun
Hari ke-21 : Samisara mora turun
Hari ke-22 : Antian ni anggora
Hari ke-23 : Suma ni mate
Hari ke-24 : Anggara ni begu
Hari ke-25 : Muda ni mate
Hari ke-26 : Boraspati na gok
Hari ke-27 : Singkora duduk
Hari ke-28 : Samisara bulan mate
Hari ke-29 : Hurung
Hari ke-30 : Ringkar

Jadi marlapatan do ate goar ni ari inon tu partubu ni angka jolma, jala sian i do hape didok jala muncul pangalaho jala pantangan na dibahen angka natua-tua na ujui.

Jala angka goar-goar ni tingki i non dibahen tudos tu angka ula-ula ni jolma di tingki inon. :)